Ketum PP Muhammadiyah: Elit Politik Harus Saling Silaturahmi di Momen Idul Fitri

oleh

Uri.co.id, KULON PROGO – Umat muslim pada Rabu (5/6/2019) ini merayakan Idul Fitri 1440 Hijriah.

Ini menjadi momen suci bagi semua pihak untuk saling bersilaturahmi membuka hati dan pintu maaf.

Dalam momen indah ini, para elit politik diminta untuk bisa menjadi teladan bagi rakyatnya dalam urusan menjalin silaturahmi.

Apalagi, Idul Fitri kali ini bertepatan paska digelarnya Pemilu.

Tak disangkal, pesta demokrasi itu sedikit banyak memunculkan friksi dan keretakan hubungan kebangsaan di tengah masyarakat karena perbedaan pandangan politik.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menyebut momentum Idul Fitri menjadi momen yang tepat bagi bangsa dengan mayoritas penduduknya muslim dan religius ini untuk saling bersilaturahmi atau rekonsiliasi mempertautkan kembali hubungan persaudaraan.

Bukan sekadar pertautan biasa namun juga mempertautkan hubungan yang sempat terputus sebelumnya.

Keretakan yang sempat terjadi karena perbedaan pandangan politik harus direkatkan kembali.

“Kuncinya di sikap longgar hati para elit bangsa, terutama elit politik. Karena mereka ini yang akan jadi penentu proses politik (selanjutnya). Dulu kami menyebutnya rekonsiliasi namun bahas ayang sangat aktual ya silaturahmi,” kata Haedar seusai menjadi imam dan khatib Salat Ied di Alun-alun Wates, Kabupaten Kulon Progo, DIY, Rabu (5/6/2019).

Turut mendampinginya dalam agenda tersebut antara lain Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo dan Wakil Bupati Sutedjo.

Ia menyebut, konflik di masyarakat sebetulnya sudah selesai pada 17 April 2019 lalu seiring berakhirnya proses pemungutan suara Pemilu dan telah kembali pada kehidupan sehari-harinya.

Sekarang ini, giliran para elit politik yang harus menyelesaikan masalahnya.

Apalagi, terkait perselisihan hasil Pemilu, sudah ada proses hukum yang ditempuh sehingga seharusnya tidak ada lagi proses politik lainnya.

Para elit politik harus saling silaturahmi dari dalam hati.

“Imbauan saya sebagai pimpinan Muhammadiyah, mumpung Idul Fitri, para elit negeri mari bareng-bareng menjernihkan hati, pikiran, sikap, dan tindakan kita agar jadi teladan bagi rakyat. Kuncinya silaturahim,” imbuh Haedar.

Ia menyebut, PP Muhammadiyah menawarkan jalan rekonsiliasi bagi permasalahan politik yang saat ini sedang mendera Indonesia.

Rekonsiliasi itu mencakup segi kultural dan politik.

Secara kultural, masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki nilai gotong royong kuat perlu dikaptilasisasi menjadi energi kolektif untuk membangun bangsa dan negara dalam keberagaman.

Dengan demikian, upaya membangun bangsa itu jadi lebih ringan.

Sedangkan dsri sisi politik, para elit bangsa harus segera menyelesaikan perselisihannya dengan kedewasaan.

Masing-masing pihak harus saling declare, yang menang merangkul pihak yang kalah dan yang kalah mengakui yang menang.

Rekonsiliasi politik harus menjadi format baru agar tidak terkapling-kapling.

“Saya yakin ini sudah jadi pikiran elit politik. Perspektif Muhammadiyah, nilai keagamaan, kebudayaan, dan Pancasila harus hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau hanya mengejar kepentingan politik, itu liberal dan pragmatis sekali,” kata Haedar.

Adapun dalam khutbahnya, Haedar menyebut puasa dan seluruh ibadah yang dilakukan umat muslim seharusnya menjadikannya insan saleh dalam hati, pikiran, dan tindakan.

Terlebih, dalam era media sosial dan politik hang sanhat keras atau bebas saat ini.

Setiap muslim hafus menanamkan jiwa yang baik terhadap sesama meski berbeda agama, pandangan, dan katar belakang.

Ia juga mengajak umat unntuk mengjindari ujaran kasar, keras, panas, hoaks yang berpotensi menyulut situasi konflik di tubuh bangsa.(Uri.co.id) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!